07 Oktober 2010

Ayo, Kirim Tulisanmu 
ke Media Cetak, 
Dapatkan Nilai A



Itulah salah satu strategi dosen saya saat mengampu mata kuliah Menulis, 10 tahun lalu. Pak Slamet, namanya. Tak tanggung-tanggung, doi akan memberikan nilai akhir A andai ada tulisan mahasiswanya dimuat di salah satu koran; boleh surat pembaca, opini, puisi, cerpen, resensi. 

Sobat,
Trik tersebut sepertinya cukup jitu untuk menggugah niat, memompa semangat, menantang adrenalin, entah mahasiswa ataupun peserta didik, untuk mau alih-alih berani menulis.

Sukar memang menumbuhkan kecintaan menulis kepada generasi muda sekarang yang cenderung menyukai sarana audiovisual berbasis teknologi pintar ala BlackBerry, permainan internet (atawa online game), jejaring sosial, dan seabrek sarana pemanja lainnya.

Iming-iming memberikan nilai purna kepada mahasiswa ataupun peserta didik, menurut saya, masih relevan diterapkan saat ini. Berdasarkan amatan saya, dalam kapasitas sebagai editor bahasa di salah sebuah perusahaan koran, tak jarang redaksi sebuah surat kabar kekurangan stok tulisan untuk pengisi rubrik Surat Pembaca (setiap media mempunyai versi nama, di antaranya ada yang menyebut Pikiran Pembaca, Sambung Rasa, Suara Rakyat). Ini logis karena forum tersebut tidak memberikan imbal balik dalam bentuk honor kepada si pengirim.

Kolom artikel (setiap media juga mempunyai versi sendiri-sendiri, misalnya Forum, Artikel, Opini) cenderung ada pengirimnya, bahkan ada yang antre, karena artikel yang dimuat diapresiasi dengan pemberian honorarium dari koran bersangkutan kepada penulis. Nah, sebagaimana kita ketahui, tulisan-tulisan yang "basah" (untuk mengistilahkan bisa buat ladang mencari pendapatan tambahan :) ) ialah opini, cerpen, puisi, resensi.

Pengelola media massa mempunyai standar honorarium. Honor yang diperoleh penulis di media nasional umumnya lebih banyak ketimbang di media lokal. Sebagai contoh, apabila opini saudara dimuat di harian nasional, honor yang diterima bisa berkisan Rp 300.000-Rp 500.00,00. Pemuatan cerpen bisa mencapai kisaran Rp 800.000,00.

Nah, ke tema inti artikel kali ini, trik stimulasi bagi mahasiswa/murid yang berhasil meluluskan tulisannya di media cetak sungguh berfungsi ganda. Bagaimana tidak? Pertama, penumbuhan kecintaan menulis akan semakin lestari. Kedua, mereka tertantang untuk menulis dengan baik, benar, profesional. Ketiga, yang tak ternilaikan dengan materi, mereka akan memiliki kepuasan tiada tara di saat tulisan dimuat di media cetak, dibaca oleh banyak orang. Keempat, otomatis anugerah akan mengikuti karena dapat kesempatan mentraktir teman, nonton di bioskop, beli novel dari honor yang diperoleh.

Akhirnya...
Bagi Pak, Ibu Guru, Dosen, tebarkan virus menulis kepada anak-anak dengan mengirimkan tulisan ke media cetak. Kalau ada yang berhasil, pasti mereka ketagihan.

Bagi siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi, ayo kirimkan cerpen, opini, resensi teman-teman. Siapa tahu kawan ada yang punya potensi buat menjadi penulis besar kayak Mas Hirata :)

4 komentar:

  1. wah gan, aku ga bisa nulis e. sukaku ilustrator. tapi boleh juga dicoba. moga2 sukses. dunia baru: menulis

    BalasHapus
  2. semangat-semangat. tidak ada sesuatu yang musykil di dunia ini. asal niat, optimistis, n tanpa putus asa. ku sarankan juga sering-sering membaca. dengan membaca buku apa pun, kosakata bertambah, informasi nambah, akhirnya bisa nulis dengan lancar. ada baiknya pula membaca buku kiat-kiat menulis. banyak sekali tuh dijual di toko-toko buku. dari kiat menulis artikel, resensi, sampai menulis fiksi. ayo semangat!!!!

    BalasHapus
  3. Bos Adi, Pak Suroto. Saya juga proses belajar. Pokoknya, ayo menulis dan menulis. Apa pun itu. Jadikan ia kebiasaan, bahkan kebutuhan :)

    BalasHapus
  4. hmm...boleh minta sarannya kah?
    saya saat ini jg dsuruh dosen saya seperti anda.
    bagaimana saya harus mengirimkan karya saya ke media cetak.saya tidak mengerti

    BalasHapus