19 Oktober 2010


Ada yang Salah dengan 
Pengajaran Sastra




Korupsi kian akut. Kolusi nepotisme masih saja bukan modus tabu. Semua bahkan dilakukan berjemaah. Partai A hingga partai Z, di institusi anu sampai institusi itu, dari level situ hingga tingkat sana selalu saja ada sang korup. Tatanan kehidupan geming dalam karut-marut, absurd.

Itulah cermin kekinian negeri. Semua bermuara pada: Ada yang salah dengan pengajaran sastra. Hatta sukar nian menemukan pejabat, politisi, atau siapa pun yang memiliki kepekaan terhadap kondisi yang dihadapi bangsa ini.

Demikianlah satu sorotan buah pikir Acep Zamzam Noor, pujangga kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, saat menyua dua ratusan ahli bahasa, pakar bahasa, praktisi bahasa, sastrawan, pendidik dalam perhelatan Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan bertajuk "Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Peningkatan Kualitas Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah" yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, di Jalan I Dewa Nyoman Oka 34 Yogyakarta.

Ia membandingkan antara pengajaran sastra dahulu dan masa kini.
Betapa, besutan pengajaran sastar tempo doeloe mampu mencetak orator-orator andal ala Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Bung Tomo, Natsir, Hamka. Pidato mereka bukan hanya hidup dan indah, melainkan juga sarat makna mendalam yang bikin bulu kuduk siapa pun merinding dibuatnya. Kata-kata yang terucap merupakan rangkaian kata yang telah mereka pahami, hayati, dan jalani. Untaian kata terlahir dari lubuk hati, bukan sebatas luapan kata umpama busa di bak mandi.
Kontra dengan generasi milenium kedua ini. Semua kerap menyaksikan sejumlah politisi muda mengutip teks sastra di saat kampanye pemilu. Kutipan-kutipan tersebut dipasang di baliho-baliho, dan lain sebagainya. Sayang, tak ada keselarasan antara teks dan citra yang melekat pada pribadi mereka. Kata-kata yang terucap tidak matching dengan gerak bibir, ekspresi wajah, dan sorot mata, hingga gestur, apalagi suasana kalbu/hati. 

Penyair yang beberapa kali mendapat Hadiah Sastra Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda untuk puisi Sunda terbaik dan pernah tinggal tiga tahun di Italia ini menyodorkan fakta betapa pengajaran sastra bagi siswa sekolah menengah zaman dahulu sungguh berbobot. Taufiq Ismail pernah mengadakan penelitian mengenai pengajaran sastra bagi siswa sekolah menengah di sejumlah negara. Konon, pascakemerdekaan RI, siswa-siswi tak lagi wajib membaca buku sastra. Padahal, di sejumlah negara, tiap murid diwajibkan membaca 5 hingga 32 buku dalam tiga tahun masa sekolahnya. Padahal, sekolah menengah pada zaman kolonial mewajibkan peserta didik membaca minimal 25 buku, di samping kewajiban mengarang. 

Pada akhirnya, banyak warga Indonesia—dengan status, fungsi, peran masing-masing—tak cukup peka, bahkan "tumpul" terhadap kondisi yang tengah dihadapi bangsa ini.

Sob, saya kira, bangsa ini masih ada kesempatan buat memperbaiki diri agar mampu mencetak ksatria piningit, sosok yang mampu menjadikan cahaya Indonesia mendatang lebih cerah. 
Caranya? Siapa lagi kalau bukan diri kita sendiri, kapan lagi kalau bukan sekarang, dan di mana lagi kalau bukan di sini, di negeri sendiri, buat berkontribusi dengan cara masing-masing.

Arkian, saya kutipkan saran Acep Zamzam Noor agar pembelajaran sastra makin ciamik.
  • Selain pengajaran sastra yang harus dilakukan lebih serius lagi di sekolah, kampus, maupun sanggar-sanggar, tampaknya dibutuhkan juga terobosan dalam upaya mendekatkan sastra kepada pembacanya, yaitu masyarakat luas. Terobosan ini harus terus dilakukan untuk menyadarkan semuanya, khususnya generasi muda, mengenai sikap kebangsaan yang kian hari makin sirna. Terobosoan harus kreatif, impresif, imajinatif.
  • Karya sastra jangan hanya terkerangkeng di kelas-kelas sekolah, ruang-ruang kampus, perpustakaan atau lembaran-lembaran kertas. Para sastrawan, aktivis, pencinta sastra harus sama-sama bergerak memperluas wilayah apresiasi dengan kemampuan serta latar belakang masing-masing. Pembacaan sastra, dramatisasi sastra, musikalisasi sastra yang selama ini sudah berjalan di banayk daerah harus terus dilakukan, di samping terobosan kreatif lainnya. Mal, supermarket, kafe, restoran, karaoke, radio, televisi lokal, madrasah, pesantren, pasar tradisional, gedung dewan, kantor pemda, kejaksaan, pengadilan, kodim, polres, bahkan penjara, hingga lokalisasi pelacuran akan sangat indah seandainya bisa dimasuki karya sastra.

Sosok

Acep Zamzam Noor

Tempat, Tanggal Lahir: Tasikmalaya, 28 Februari 1960.
Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.
Pada 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As ­Syafi'iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987).
Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993).
Mengikuti workshof seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996).

Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibu kota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur'an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia. Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007), Rambut Ikal (Pustaka Azan, 2010), Marak Cahaya (dalam proses) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadi nominator Hadiah Rancage 1994.
Sejumlah puisinya termuat dalam beberapa antologi penting seperti Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987), Dari Poci I/ (Tiara, 1994), Ketika Kata Ketika Warns (Yayasan Ananda, 1995), Takbir Para Penyair (Festival Istiglal, 1995), Negeri Bayang-bayang (Festival Surabaya, 1996), Dari Negeri Poci 1// (Tiara, 1996), Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996), Utan Kayu: Tafsir Dalam Permaianan (Kalam, 1998), Bakti Kemanusiaan (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2000), Angkatan 2000 (Gramedia, 2001), Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), Napas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004) dan lain-lain.
Sejumlah puisinya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan termuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995), Aseano (Manila, 1995), In Words In Colours (Jakarta, 1995), A Bonsai's Morning (Bali, 1996), Journal of Southeast Asia Literature Tenggara (Kuala Lumpur, 1996), diterjemahkan Harry Aveling untuk Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), Poetry And Sincerity (Jakarta, 2006), Asia Literary Review (Hongkong, 2006) serta The S..E.A. Write Anthology of Asean Short Stories and Poems (Bangkok, 2008). Juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan termuat dalam Toekomstdromen (Amsterdam, 2004), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan termuat dalam Orientierungen (Bonn, 2008), diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan termuat dalam Antologia de Poeticas (Jakarta, 2008). Belakangan diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang dan Arab.
Puisi-puisi Sundanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk Modem Sundanese Poetry., Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001) dan ke dalam bahasa Perancis oleh Ajip Rosidi dan Henri Chambert-Loir untuk Poemes Soundanais: Anthologie Bilingue 
(Pustaka Jaya, 2001).
Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk puisi Sunda terbaik. Kumpulan puisinya, Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Sedang kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu selain mendapat Penghargaan Penulisan (SEA) Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, juga mendapat South East Asian Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Namanya termuat dalam Ensiklopedi Sunda dan Apa Siapa Orang Sunda susunan Ajip Rosidi.
Tahun 1995 mengikuti Scond ASEAN Writes Conference di Manila, Filipina, mengikuti Festival Puisi Indonesia-Belanda dan Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Tahun 1997 mengikuti Festival Seni 1po/7 //, di 1poh, Malaysia. Tahun 2001 mengikuti Festival Puisi Internasional Wintemachten Overzee di Jakarta, mengikuti Kuala Lumpur Southeast Asian Writers Meet di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2002 mengikuti Festival Puisi Intemasional Indonesia di Makassar. Tahun 2004 mengikuti Wintemachten Poetry International Festival di Den Haag, Belanda. Tahun 2006 mengikuti Festival Puisi Intemasional 2006 di Palembang, mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2006 di Bali. Tahun 2007 mengikuti Utan Kayu International Literary Biennale di Magelang, menjadi mentor pads Bengkel Puisi Majlis Sastra Asia Tenggara (Masters) di Samarinda. Tahun 2008 mengikuti Temu Sastrawan Indonesia di Jambi, mengikuti Jakarta International Literary Festival di Jakarta, mengikuti Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tahun 2009 mengikuti Nusantara Poetry tattering di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sumber:
Makalah Acep Zamzam Noor dalam Sarasehan Kebahasaan dan Kesastraan, Yogyakarta 2010; acepzamzamnoor.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar