04 November 2010

Bahasa Tunduk pada Keganasan Merapi




Asap membubung di puncak Merapi, awal November 2010. Sumber: Kompas.com
 

Di medio Oktober 2010, Indonesia direpoti oleh bencana alam. Tsunami di Mentawai "mengangkat" ratusan hamba ke alam barzah. Gempa bumi Wasior, Papua, tak kalah tragis. Tak terhitung kerugian harta benda akibat tragedi tersebut. Bencana yang tak kalah prestise ialah erupsi Gunung Merapi. Tiap gunung teraktif di dunia itu berulah, ratusan media massa pasti berkompetisi memberitakannya ke dalam bentuk teks, gambar, audio, ataupun audiovisual. Dunia pun terkesima. Tiap insan—semestinya—mafhum dan mengamini akan kebesaran ciptaan-Nya.


Ada banyak ilmu yang didapat dari aktivitas alam tersebut. Ilmu hakikat bisa kita dapati bahwa manusia itu adalah makluk lemah. Ia tunduk pada keberaturan. Allah sebagai Sang Pemilik Hidup berhak mengelola alam seisinya. Ilmu kalam jua berserakan. Pemahaman, pengetahuan, wawasan, kosakata perihal kebumian, vulkanologi, kegunungapian semakin luas dan dalam.

Di sisi kebahasaan, pemakai bahasa Indonesia tak asing lagi dengan istilah: deformasi, lava, magma, erupsi, efusif, lahar dingin, asap solfatara, kubah, dan sebagainya. Saya hanya pengin berbagi tahu perihal erupsi versus meletus.

Sobat,
Selama ini, saya selalu menggunakan istilah "erupsi" untuk mengatakan proses keluarnya material, berupa batu besar-kecil, pasir, lumpur, dari perut Merapi. Pada peristiwa tragedi Merapi tahun 2006, ketika mengedit tulisan wartawan, saya disiplin dan konsisten mengubah istilah "meletus" menjadi "erupsi". Argumentasinya: Gunung Merapi memiliki kekhasan yang hampir tak dimiliki oleh gunung-gunung lainnya. Ia memuntahkan material dengan cara melelehkannya melewati punggung gunung. Ia tidak pernah memuncratkan atawa meletuskan material secara vertikal. Keunikan ini diakui oleh banyak pakar, praktisi vulkanologi sehingga tak sedikit ahli mengistilahkan batuk Merapi sebagai batuk terindah. Erupsi nan indah.

Saya juga pernah membuktikannya. Di tahun 2006 itu, saya sering menemani sang jurnalis foto ke areal terdekat Merapi. Ia memang teman yang militan dan total pada profesinya. Sosoknya elegan, tak kenal lelah, dan pemberani. Kami kerap bermalam di Dusun Kalitengah Lor, yang berjalan tak lebih dari 4,5 kilometer dari puncak Merapi. Di lain malam, kami bereksperimen dengan sudut pandang lain, misalnya di Balerante, Klaten, Jawa Tengah, dan Babadan, Magelang. Waktu itu Merapi batuk. Ia melelehkan lava pijar. Warnanya merona merah kekuningan. Ia meluncur deras diiringi gemuruh nan menggelegar.

Akan tetapi, di Oktober 2010, dunia tercengang. Merapi tak seindah dahulu lagi. Ia sudah tak mau sekadar erupsi. Ia benar-benar telah menunjukkan keangkuhan dan kegagahannya. Merapi pun meletus. Tak malu-malu, ia semprotkan awan panas (wedhus gembel) hingga radius 8 kilometer. Abu vulkanik tak segan ia muntahkan sampai Jawa Barat dan Kota Yogyakakarta. Semua orang gemas diselimuti takut mencekam. Dusun Kinahrejo dilibas tuntas. Mbah Maridjan sang juru kunci andalan Sultan Hamengku Buwono IX dan 33 warga diperkenankan menuntaskan tugas di dunia fana.

Akhirnya, sah-sah saja pastinya bahasawan mengistilahkan Merapi sedang meletus. Jadi, arahan ahli vulkanologi yang menyarankan pemakaian istilah "erupsi" telah terpatahkan oleh keganasan Merapi sendiri, sang empunya cerita.

Gunung Merapi telah meletus. Erupsi eksplosif tersebut mengeluarkan awan panas sampai radius 8 kilometer. Akhirnya, status Merapi tak sekadar Awas. Statusnya menjadi Kritis. Artinya, orang harus mengungsi terlebih dahulu supaya tidak dilumat habis awan panas yang bersuhu lebih dari 600 derajas celsius.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar