05 Desember 2010

Ternyata Yogya Lebih Disukai Orang Indonesia

sumber: http://mbiru.com


Di awal Desember ini, buah bibir khalayak tertuju ke provinsi yang punya gudeg, Tugu, dan bakpia, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia wilayah nan eksotis. Simbol kerajaan masih bersinggasana anggun berkawan akrab dengan gempita modernitas dan kemegahan tanpa rivalitas dan dendam. Kini rakyatnya punya gawe buat berkompromi dengan negaranya, mengawal  "epik mataraman".
sumber: artwoart.blogspot.com

Di lembaran maya ini, penulis tak hendak menguyupkan diri ke soal monarki bin demokrasi. Penulis pengin berbagi dengan pengunjung laman ini perihal penggunaan istilah yogya yang masih digemari oleh bahasawan bahasa Indonesia. Ada kesalahan berbahasa, yakni pemakaian kata yogya yang seharusnya yogia.

Sayang, tidak sedikit pengguna bahasa Indonesia masih saja menggunakan kata yogya. Baiklah, kita ikut-sertakan paman Google buat membandingkan berapa orang penggemar yogya dan berapa jiwa pemakai yogya.


Agar akurat, penulis memasukkan istilah seyogyanya dan seyogianya.


Istilah seyogyanya muncul sebanyak 465.000 kali.
Istilah seyogianya muncul sejumlah 135,000 kali.

Nah, terbuktikan betapa salah kaprahnya pemakai bahasa di nusantara ini.

Apa sih makna kata yogia. Penulis kutipkan kamus daring berikut (yang berkiblat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia III):

yo·gia a patut; layak; baik;
se·yo·gia·nya adv 1 sepatutnya; selayaknya; semestinya: di depan orang-orang tua hendaklah engkau berlaku ~; 2 sebaiknya; seharusnya: jika Anda hendak membawa mobil, ~ dipenuhi dulu tangki bensinnya





Tidak ada komentar:

Posting Komentar